Dikirim Terserah Tak Dikirim Terserah !

Kemarau sudah akan tiba pikirku. Tapi tonggeret belum mengalun-alun menggetarkan dua pita di bawah sayapnya, mereka memiliki radar pendeteksi musim. Sebenarnya bukan radar tapi saat musim penghujan habis, tonggeret akan keluar dari tanah lalu hinggap di batang-batang pohon untuk berakustik dan siap kawin-mawin. Mungkin kemarau akan terlambat hadir tahun ini, penghujan masih panjang dan banjir masih mengancam. Manusia-manusia yang bodoh aku menyebutnya, meski sedikit banal. Merekalah yang membuang sampah semaunya, selokan, sungai, parit, drainase tersumbat. Air meluap hingga banjir datang.

Saat musim hujan seperti ini, berpergian menjadi hal yang tak menarik. Lebih menarik tinggal di rumah, ABG jaman sekarang sering menyebutnya mager alias malas gerak. Malas gerak meski sekedar membeli cemilan di warung Bu Bagus berjarak tiga rumah atau beli sayur di pasar pagi. Mendekam di rumah adalah pilihan tepat sambil berselancar dan belanja barang-barang yang tak begitu perlu di toko online (konsumtif!). Baru-baru ini The Wall Street Journal merilis transaksi penjualan online di Indonesia mencapai sekira 66 triliun pada tahun 2016. Aku agak susah membayangkan berapa jumlah angka nol dalam 66 triliun. Perkiraan itu meningkat 37,5% dari tahun 2015. Angka yang fantastis!. Dengan uang sebanyak 66 triliun aku membayangkan bisa membeli cendol atau dawet ayu Banjarnegara lalu kutaruh di dalam kolam lantas aku berenang di dalamnya. Jadi memang benar adanya “sambil menyelam minum dawet”.

Kini orang yang menghamba pada koneksi internet tak lagi butuh pasar dan mal dalam bentuk fisik, pasar dan mal sudah berubah menjadi barisan-barisan kode html yang bisa dibuka melalui perambah, bahkan masing-masing sudah punya aplikasi yang bisa kau unduh. Klik pesan, bayar, antar. Pasar dan mal dalam bentuk bangunan sudah dianggap uzur, ketinggalan jaman, melelahkan, dan tak efektif. Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Elevenia, Rakuten, Mataharimall, JD.id, dan forum-forum jual beli online beserakan, saling unjuk gigi pamer diskon. Masih ditambah lagi pelapak-pelapak independen yang selalu menyambar di kolom komentar pada setiap gambar dan tulisan yang kau unggah di media sosial. Obat pelansing, obat penggemuk, peninggi badan, baju, sepatu, kolor, bedak, pupur, lulur juga sembako. Tak perlu kau membayangkan apakah aku pernah membeli beras secara online!

Menjelang sore yang hujan, pas untuk menikmati kopi di teras depan rumah sambil melihat air dari genting jatuh tepat di mulut selokan. Bertemu kawan dari genting tetangga kemudian mereka berarak-arak mengalir bersama ke barat, menuju tempat paling rendah. Petir tak menyambar-nyambar, hujan sore ini meski deras tapi tak menciutkan nyali justru malah membangkitkan kenangan. Saat hujan, orang-orang tertentu dapat mendengarkan kisah masa lalu yang direkam oleh air yang ditumpahkan dari langit bahkan suara hujan mengandung nada-nada indah menurut mereka yang diberkahi karunia itu. Mendengar hujan seperti mendengarkan alunan lagu.

Dari timur terdengar suara sepeda motor mendekat, mirip tukang pos membawa keranjang terpal kanan kiri. Berhenti di depan rumah, turun dari kendaraan, lalu melongok di pagarku.

“Mas ada paket”. Katanya sambil mengusap muka yang basah.

Oh ternyata kurir ekspedisi mengantar barang hasil belanja online tempo hari. Sore dan hujan begini tetap diantar, dedikasi yang luar biasa. Kurir yang sangat hafal dengan rumahku, kurir yang kadang sedikit kurang ajar karena paket diantar ke rumah meski kualamatkan ke kantor. Paket berlabel YES (yakin esok sampai) memang harus segera diantar tak kenal cuaca, intinya sehari harus sudah di tangan sang empu tujuan. Tapi milikku ini bukan paket yang harus sehari sampai. Aneh. Aku tersenyum geli menerima paket ini. Inilah paket hasil kerja konsumen adalah raja.

Biasanya aku belanja dari toko online yang iklannya sering nongol di televisi. Tapi kali ini aku mencoba membeli di toko khusus sepeda dan segala perias yang menempel di sepeda. Seperti biasanya toko online yang membariskan barang dagangannya dengan navigasi yang indah dan mudah. Aku memilih benda kecil penutup ujung kemudi sepeda, bar end cap namanya. Bentuknya mirip tutup botol minuman bersoda. Kupilih ekspedisi dengan biaya paling murah, meskipun akan lama untuk sampai aku tak ambil pusing. Lanjut ke pembayaran, barang siap kirim.

Keesokan hari setelah pembelian itu, toko memberikan konfirmasi bahwa barang tak dapat dikirim dengan ekspedisi yang kupilih katanya sistem sedang bermasalah sehingga aku harus mengirimkan sejumlah uang untuk mengganti biaya ekspedisi.

“Selamat pagi.. Kami dari wow-onlinestore telah menghubungi bapak melalui telephone.. kami ingin mengkonfirmasi bahwa order ID #337 ada kesalahan sistem dari online kami sehingga pengiriman yang muncul adalah Elteha.. untuk pengiriman spare part tidak bisa menggunakan elteha tetapi menggunakan JNE, untuk biaya kirim ke wilayah Semarang paket JNE OKE dikenakan biaya sebesar Rp 12.000, sehingga total semuanya adalah Rp 52.000,- mohon sisanya untuk segera di bayarakan, sehingga kami bisa memproses pesanan bapak.. kami mohon maaf atas ketidak nyamanannya.. :)”
Tulisnya di surel, karena telepon dan smsnya tak kujawab.

“Yg salah sistem kok yg nanggung konsumen. Aneh..”. Jawabku membalas surel itu.

“Dear Pak Rochsid, kami mohon maaf atas ketidak nyamanannya.. Dikarenakan kemarin ada perbaikan system sehingga biaya kirim JNE tidak muncul.. Untuk biaya kirim menggunakan pekat JNE OKE dikenakan biaya kirim sebesar Rp 12.000,-kami akan segera memproses pesanan bapak apabila kami telah menerima sisa pembayaran (biaya kirim).” Bunyi balasan selanjutnya.

Aku muntab, marah. Uang 12 ribu harus diperjuangkan!

“Saya tidak mau transfer sisa pembayaran. Mau dikirim terserah tidak dikirim ya terserah !!!”

Screen Shot 2016-06-03 at 9.27.04 AM

One thought on “Dikirim Terserah Tak Dikirim Terserah !”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *