Enam Ratus Ribu

Hari minggu pukul tiga sore Kaldera anakku sudah terbangun dari tidur siangnya. Meloncat dia dari kasur lalu menyongsongku di ruang tamu yang sedang asyik membaca novel. Aroma kecut dari tubuh bocah kecil ini mengusik hidungku. Namun kecut itu menjadi aroma khas yang diam-diam aku nikmati saban hari saat Kaldera menuju pelukanku.

Matanya masih agak lengket susah dibuka, tapi aku sangat mengerti ketakutannya saat bangun tak menemui ayah disampingnya mengalahkan kerepotannya untuk membuka mata. Masih dalam pelukan yang sedikit merepotkan tangan kananku karena tangan lain memegang novel, Kaldera ingat lalu menagih janji kepadaku untuk keliling kota. Ya, sekedar keliling kota sambil bernyanyi dengan lirik yang hanya dimengerti oleh aku dan Kaldera saja, ibunya tidak.
Udara sore itu mendung tipis, matahari masih gagah meski sudah sedikit menuju barat.

“Jangan hujan..” kataku dalam hati.

Jika tak hujan maka membuat kami lebih bersemangat memakai motor daripada mobil tua yang kuparkir di lantai tiga. Lantai tiga? jangan kau pikir rumahku setinggi itu. Yang berlantai tiga adalah gedung parkir serba guna milik kampus tempat aku bekerja. Disana banyak mobil dititipkan dengan segala alasan: rumah sempit, ditinggal pergi ke luar kota, mobil kedua, mobil ketiga, mobil ke empat, mobil kelima dan mobil mogok. Nah, mengapa mobil tuaku ikut disana? karena alasan pertama sekaligus alasan terakhir. Dia suka mogok akhir-akhir ini mungkin karena jarang kumandikan lalu kusiram kembang akhirnya dia cemburu pada Kaldera yang selalu wangi saat duduk di jok belakangnya. Padahal jelas beda wangi bocah tiga tahun dan mobil tua, aku kira kecemburuannya tak beralasan.

Setelah segala urusan mandi, dandan sudah selesai kami bertiga telah siap untuk keliling kota. Yamaha Mio lunas kredit tiga tahun lalu siap mengantar, tak lupa kami semua memakai helm. Tiga bulan yang lalu sengaja kubeli tiga helm kembar berwarna putih di toko helm pinggir jalan Pasar Kambing. Pasar yang sampai saat ini aku tak tahu dimana kambing biasanya dijajakan. Untuk beberapa hal yang murah aku lebih suka kami seragam. Kompak, romantis dan mungkin saja norak menurut orang-orang.

Sebelum keliling kota kami sempatkan mampir ke parkir dimana si tua berada, hati berniat sekedar untuk memanasi mesinnya. Mesin yang menderu-deru lebih mirip truk penuh tonase muatan pasir daripada suara khas sedan tua. Namun awan berkehendak lain, mendung tiba-tiba bergumpal-gumpal, langit menggelap, hujan segera turun. Untunglah si mobil tua tak “ngambek” sore itu akhirnya rencana keliling kota berubah memakai mobil tua dan berubah pergi ke toko swalayan saja membeli sirup dan panganan sebentar lagi puasa.

Niat melihat-lihat kota berubah menjadi melihat-lihat toko swalayan dan isinya. Rencana hanya beli sirup dan panganan berubah tambah beli susu, sampo, sabun dan kebutuhan beraneka rupa. Niat hanya menghabiskan sore akhir pekan melihat kota berubah niat membeli baju lebaran yang tinggal beberapa minggu lagi. Sebenarnya saya mengutuk darimana budaya beli baju baru menjelang lebaran ini berasal. Kukira bukan dari Jawa karena setahuku menjelang “bada” orang Jawa biasanya nyadran dan mengunjungi makam bukan beli baju ke pasar. Belum selesai kumencari asal mula beli baju baru, Kaldera sudah lari entah kemana. Anak yang gesit dan tak punya lelah selain meringankan juga kadang cukup merepotkan. Ringan karena lebih suka mandiri tak mau digendong, repot karena dia sering hilang dikerumunan. Pernah aku berfikir membelikan jam tangan yang ada GPS untuknya, namun sampai sekarang masih belum terlaksana karena tempo hari dia memartil jam tangan mainannya kata dia agar kembali berputar dan bersuara.

Teriakan Kaldera membuatku menemukannya. Dimulailah ritual mengelilingi stand-stand baju dan kutantang anakku untuk memilih sesukanya. Berapapun harganya akan kubayar ! (sombong sekali). Kupikir Kaldera akan memilih baju tidur bergambar Elsa dan Ana, uforianya kepada film Frozen sudah lebih dari setahun tak ada kelarnya. Baju tidur macam itu masih sangat terjangkau harganya meski dibeli di mal. Parkirlah Kaldera melihat baju pesta berwarna emas kombinasi fuchsia dengan bawahan ada pernik-pernik, juga dilengkapi kerudung.

“Berkilau-kilau” .. kata dia.

Penjaga toko tersenyum, aku tersenyum, ibunya kecut mungkin sudah tahu harganya. Aku tersenyum karena berfikir baju seperti itu tak akan ada yang pas untuk bocah tiga tahun. Setelah kurang lebih tiga menit Kaldera membelai-belai gaun itu, tak mau beranjak tak mau baju lain. Baiklah, kusuruh untuk mencobanya. Ukuran paling kecil gaun itu bukan untuk anak tiga tahun tapi untuk empat tahun. Aha.. aku seakan meloncat gembira karena Kaldera pasti tak suka jika gaun yang dicobanya kedodoran. Aku sangat bersemangat membantunya mencoba gaun itu. Alamak, aku sungguh tak menyangka baju untuk anak empat tahun itu persis pas untuk Kaldera anakku. Aku dan ibunya hanya bertatap muka, saling pandang tanpa ucap apapun. Karena kami berdua tahu harganya enam ratus ribu.

*jangan ditanya gaun itu jadi dibeli atau tidak.*
—-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *