Nasib Gaun Enam Ratus Ribu

Gonggongan anjing membangunkanku dari tidur yang baru sepejaman mata menurutku. Semalam harus berjibaku dengan deadline pekerjaan yang tak punya ampun. Kejam, bengis tapi sistematis. Anjing yang membangunkanku pagi ini keranjingan sekaligus kerajinan bahkan lebih rajin dari alarm dari smartphone yang sudah tak smart lagi. Tahu begitu aku tak perlu memasang alarm lagi, besok akan kubisiki telinga anjing tetangga yang berjenis Golden Retriever itu.

“Tiap hari menggonggonglah, sekira jam lima pagi. Tiga gonggong saja bernada dasar C lalu naik satu oktaf di gonggongan ketiga, cukup”.

Anakku Kaldera masih pulas melungker memeluk gulingnya. Guling yang selalu bersih, untunglah Kaldera bukan bocah yang tak bisa move on dari guling kucel pengantar tidur seperti beberapa bocah yang punya kebiasaan itu. Kulihat di pojok kasur mainan lego Frozennya tergeletak. Figur Elsa dan Ana jungkir balik tak keruan terlihat dilempar begitu saja menjelang tidur semalam, bahkah rambut Elsa rontok entah dimana. Hobi Kaldera kini tambah satu lagi yaitu menyusun lego. Lego yang selalu bertuliskan 6+, dan aku pura-pura tak tahu makna 6+ itu apa. Kalau boleh jujur sebenarnya itu hobi kami berdua orang tuanya, Kaldera hanya kamuflase saja (licik!).

Aku melangkah gontai menuju kamar mandi, cuci muka, kaki dan bersiap subuh. Air pagi ini dingin tapi tak menyegarkan, dinginnya sedingin tembok rumah kos saat aku mahasiswa dulu. Tembok kos adalah saksi bisu semua kenakalan sekaligus kemalangan masa remaja, meski selalu dingin dia serba tahu. Bahkan dia tahu jawaban dari misteri dua pasang sandal laki–perempuan di depan pintu yang tak tahu pemiliknya dimana. Kemudian alarm di smartphone bak pahlawan kesiangan menunaikan tugasnya, bergegas kuhampiri lalu kutekan tombol mati.

Duduk di teras membayangkan hiruk-pikuk jalan menuju kampus tempat kerja pagi ini sudah membuatku cukup malas. Di laman web kampus sudah betengger pengumuman antisipasi macet sejak lusa. Jalan sekitar kampus akan sangat macet karena akan ada ujian SBMPTN, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang sempat bernama Sipenmaru, SPMB, SNMPTN Tulis, ah mungkin nama-nama lain sebelumnya. Kini, macet tak hanya terjadi di kota-kota besar. Kecamatan bahkan desa-desa ikut macet, ikut ruwet. Besi-besi dilabeli merek lalu disebut alat transportasi itu biang keroknya, setiap pagi dan sore mereka berjejal berebut jalan, beradu cepat.

Kemalasan pagi ini berlipat-lipat karena teringat si tua yang sedang mogok di ujung gang. Sore lalu dia sengaja kubawa pulang dari panti parkir lantai tiga. Montir belum berhasil membuatnya tersenyum, ada suku cadang yang harus kubeli segera untuknya. Namun harganya lebih dari dua kali lipat harga gaun berkilau yang didamba Kaldera tempo hari. Dia adalah mobil bersejarah untukku, mobil pertamaku, dialah yang membuatku berani menyetir sendiri ratusan kilometer. Mobil tua dari Eropa yang sempat melejit namanya dalam film Catatan Si Boy di medio 90an. Karena dia mobil Eropa tua, aku menyebut dia “mobil” bukan “alat transportasi biasa”!.

Ada banyak hal yang bisa membangunkan Kaldera. Kali ini suara musik dari Toa tukang roti berhasil membangunkan bocah ini. Bocah yang akan sedikit rewel mendapati ayahnya bangun lebih dahulu darinya. Kaldera bisa menangis tersedu-sedu bila aku tak segera menjawab saat dia bangun tidur. Mungkin aku kena karma, konon aku akan rewel jika bangun tak ada ibu di sampingku. Seperti biasa dia kalang-kabut mencari ayahnya dimana.

“Kal, ayah di depan..”. Teriakku.

Sampai di teras dengan memicingkan mata Kaldera terlihat gembira ayahnya belum berangkat pagi ini. Meski bukan ahli nujum aku tahu dia berbicara dalam hati. “Asyik, aku nanti masih bisa cium tangan dan dada-dada saat ayah berangkat kerja”. Suara musik tukang roti tadi sudah lindap di kejauhan. Sepanjang gang depan rumah juga masih sepi, anjing yang menggonggong tadi pagi juga sudah diam. Hanya ada aku, Kaldera di teras depan, ibunya di belakang entah sedang membuat apa.

“Tumben, Kaldera tak ceriwis..”. Kataku dalam hati.
“Ayah, bajuku yang kilau-kilau kemarin, dimana?”. Kaldera tiba-tiba memulai permbicaraan.
——

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *