Romantika Karet Gelang

Malam ini sebelum tidur saya tiba-tiba terusik dengan sebuah benda, karet gelang. Megapa? Begini, kemarin saya memenangkan lelang ikan koi sehingga sore tadi pergi ke penjual ikan koi untuk mengambil ikan tersebut, setelah berbincang beberapa saat kemudian ikan dikemas dalam plastik berisi air lalu dikembungkan dengan tiupan oksigen. Agar aman, bagian unjung plastik lalu diikat dengan karet gelang, penjual tak pikir panjang meraup beberapa karet gelang lalu mengikatnya, seolah karet gelang adalah tali biasa yang bisa diambil di kebun seperti tali dari bambu. Hati ini terasa teriris melihat karet gelang diperlakukan seperti ini.

Sebelum bernostalgia dengan karet gelang lebih baik marilah bersama-sama kita mencari asal mula karet gelang. Adalah Thomas Hancock dari Inggris yang mengembangkan karet untuk berbagi keperluan. Hancock adalah orang yang ada di balik penemuan karet gelang. Sekitar tahun 1820, dia menciptakan gelang karet. Hanya saja, pada waktu itu, karet gelang buatan Hancock belum divulkanisasi sehingga akan melunak pada hari yang panas dan mengeras pada cuaca dingin. Teknik vulkanisasi sendiri baru ditemukan oleh Charles Goodyear pada 1840-an. Goodyear menciptakan teknik ini untuk memanfaatkan karet untuk industri automobil. Hancock dengan cepat mengeksploitasi teknik ciptaan Goodyear tersebut. Dia menyebut bahwa vulkanisasi menghilangkan ketergantungan suhu pada perilaku karet. Meski menjadi pencipta karet gelang, Hancock bukanlah orang yang mematenkannya. Paten karet gelang dilakukan oleh Stephen Perry dari Messrs Perry & Co, produsen karet London pada 1845. Saat itu, kegunaan utama dari karet gelang adalah memastikan tumpukan kertas tetap terjaga menjadi satu. Fungsi ini lebih banyak digunakan untuk urusan pabrik dan gudang, bukan rumah tangga. Penggunakan karet gelang untuk rumah tangga baru dimulai tahun 1923 oleh William Spencer di Ohio, AS. Saat itu, dia menggunakan karet gelang untuk mengikat surat kabar yang dilemparkan ke halaman rumput miliknya. (Sumber Tulisan)

Baik marilah kita bernostalgia dengan karet gelang. Kita mulai dengan karet gelang adalah pengikat serbaguna, dari rambut hingga jempol. Karet gelang dengan segala jenis dan rupa pasti digunakan perempuan untuk mengikat rambut biasanya dalam keadaan darurat maka karet gelang menempati posisi yang sangat prestisius yaitu di mahkota wanita.

Akan menjadi lain jika karet gelang berada di tangan tukang nasi bungkus atau tukang nasi goreng dia dijadikan pengikat bungkusan nasi dan lebih lagi untuk menandai dengan 2 buah karet gelang maka itu adalah nasi yang pedas kenapa tidak menyiapkan karet gelang tiga warna saja misal hijau untuk tidak pedas, kuning untuk pedas sedang, dan merah untuk yang sangat pedas?.

Yang membekas saat masa anak-anak dulu adalah karet gelang merupakan alat sebar guna dengan banyak fungsi, bisa untuk ngusilin cicak yang sedang bermesraan di plafon atau mengikat jempol kaki agar lupa untuk tidak pipis ke belakang alias anyang-anyangen, bikin bola kecil, mengikat bola sampah plastik, main panahan, bermain nama-nama pemain bulu tangkis dengan bernyanyi dan karet membentuk huruf depan nama orang tersebut, bermain sulap dengan pelintir jempol, sulap ikat jari tengah, hingga sampai ruang kelas sebagai penghapus darurat yang diikat di ujung pensil. Untuk fungsi terakhir ini saya kira anak-anak kota tidak relate. 🙂

Saya tak ingat betul berapa harga karet gelang waktu itu namun mari kita ingat-ingat bersama bahwa tak banyak orang yang bisa bermain lompat tali kalo tidak sedikit berada untuk bisa membeli karet gelang dalam jumlah yang banyak.

Bahkan waktu anak-anak belajar judi pun dengan dengan kontribusi karet gelang yang dijadikan taruhan untuk beberapa permainan. Mungkin ada yang mengenal jenis-jenis permainan ini yaitu pelanthang, katen, tatap tembok, cuthit, lempar angka. Bisa jadi jenis permainanya sama tetapi dengan nama yang berbeda untuk daerah lain.

Yang terakhir, bagi saya punya karet gelang banyak selain bisa jumawa kepada teman-teman juga membawa teror. Teror apakah itu? Ayahku adalah seorang yang suka memelihara ayam terutama ayam bangkok maka berkali ulang aku kena marah jika menjatuhkan karet gelang di sembarang tempat hingga termakan oleh ayam, ayam bisa keloloden hingga bisa tertelan dan akhirnya mati. Sudah tak tahu lagi berapa ayam yang mati saat itu, tapi ayah selalu tahu bahwa ayamnya mati karena menelan karet gelang. Hingga kini saya masih heran bagaimana beliau bisa mengetahu bahwa matinya bukan karena hal lain.

Wahai karet gelang, sungguh kau membawa banyak kenangan. Eh lupa, pernah punya ponsel yang chasingnya ambyar lalu diikat karet gelang?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *